Sabtu, 26 April 2014

Tugu Titik Nol Gampong Pande, Bukti Kelahiran Banda Aceh

Share it Please




Tahun 2014, Banda Aceh genap berusia 809 tahun. Perjalanan dan usia yang sangat panjang bagi sebuah kota yang berada di ujung pulau Sumatera ini. Ada baiknya jika kita mengetahui peninggalan-peninggalan bersejarah yang menjadi cikal bakal kota Banda Aceh. Tidak hanya Sabang yang mempunyai tugu nol kilometer, Banda Aceh juga mempunyai tugu nol kilometer Banda Aceh yang terletak di Gampong Pande. Kampung Pande yang berjarak 5 kilometer dari pusat Banda Aceh ini memiliki sejumlah pemandangan yang unik serta wisata-wisata yang menarik yang patut kita kunjungi. Tugu yang dibuat tahun 2012 ini menjadi salah satu magnet bagi wisatawan yang berkunjung. Pada bulan Desember tahun 2004, kawasan ini pernah diterjang tsunami. Namun, secara bertahap kawasan yang menjadi muara Krueng Aceh itu dibangun kembali.

Tugu dengan tinggi yang tidak hampir mencapai 1 meter ini berdiri kokoh dan menjadi salah satu tujuan wisata daerah. Diatasnya sebuah plat dari besi bertulis sebuah kalimat dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Aceh, Indonesia dan Inggris. Sebenarnya, tak ada keterangan tahun pembangunan tugu dan siapa yang membangunnya. Pada Tugu tersebut terdapat tulisan," Di sinoe asai muasai jadi Kuta Banda Aceh tempat geupeudong Keurajeun Aceh Darussalam le Soelthan Johansyah bak uroe phon ramadhan thon 601 Hijriah.". Dalam bahasa Indonesia berarti, " Di sini cikal bakal kota Banda Aceh awal mula kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadhan 601 Hijriah atau 22 April 1205 M".

Tugu Kilo Nol Banda Aceh



Tugu ini memiliki posisi menghadap ke laut lepas. Ada sekitar 5 pohon ketapang melingkari tugu ini. Disisinya dibangun dua kursi yang menyatu dengan beton tembok.  Anda tidak perlu khawatir jika tidak menemukan makanan saat mengunjungi tempat wisata yang satu ini. beberapa kedai menjajakan berbagai makanan dan minuman ringan.

Penentuan lokasi awal pendirian tugu yang menjadi saksi bisu berdirinya kota Banda Aceh ini dibangun berdasarkan literatur sejarah. Berdasarkan keterangan dari beberapa pihak bahwa dahulu Banda Aceh dibangun oleh Sultan Johansyah di muara krueng Aceh. Sultan Johansyah ini sendiri adalah seorang putra ulama keturunan Bani Saljuk yang berasal dari Turki yaitu Machdum Ali Abdullah Syeh Abdurrauf  Al Baghdady atau dikenal dengan nama Tuan Di Kandang. Beliau datang ke Aceh pada tahun 1116 M bersama 500 rombongan yang terdiri dari sanak saudara, keluarga, ahli tata negara, dan sebagainya. Tujuannya untuk menyebarkan agama Islam. Setelah penyebaran agama Islam, pada tahun 1205 M terbentuk sistem pemerintahan kerajaan Aceh Darussalam. 

Namun sayangnya setelah dihantam tsunami, lokasi-lokasi yang menjadi cikal bakal Banda Aceh ini telah menjadi laut. Setengah dari daerah tersebut sudah tidak ada lagi. Jadi bisa dibilang, jika posisi dari tugu nol kilo Banda Aceh ini terletak di dalam Istana Sultan Johansyah. Beberapa peninggalan yang dapat kita lihat di lokasi Kampung Pande ini ialah kompleks Makam Tuan Di Kandang, yang terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk. Disana tertera bahwa Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada 12 Dzulhijjah tahun 936 Hijriah atau pada 7 Agustus 1530. Lalu ada pula makam Putroe Ijo. Disana terdapat makam-makam raja Aceh. Setelah itu ada juga Mesjid Tuan Di Kandang, yang merupakan tempat yang sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Banda Aceh. 

Banda Aceh adalah Ibukota Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun pada hari Jumat, tanggal 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205). Kerajaan Aceh Darussalam juga dibangun di tepi Kuala Naga (kemudian dinamakan Krueng Aceh). Sebagai pusat Kerajaan Aceh Darussalam, Banda Aceh juga pernah mengalami masa yang kelam. Sebelumnya, Banda Aceh juga pernah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan oleh Armada Portugis. 

Cikal Bakal Banda Aceh
Ilustrasi Darud Dunia
Semoga situs-situs atau cagar peninggalan sejarah dapat ditata dengan baik dan diperhatikan kondisinya oleh pemerintah setempat. Adanya peran masyarakat dalam menjaga situs-situs bersejarah juga sangat diperlukan. Jangan lupa mampir ke daerah Kampung Pande sebelum memulai penjelajahan ke situs-situs bersejarah lainnya di Banda Aceh. 


5 komentar:

  1. tugu ini yang belum aku kunjungi. mungkin next trip :) sukses ya lombanya.

    mampir juga kemari http://mhdharis.wordpress.com/2014/04/27/banda-aceh-punya-situs-objek-wisata-tsunami-yang-wajib-dikunjungi/

    BalasHapus
  2. haha, ayo kalau bisa mampir ke kampung pande :) )

    BalasHapus
  3. keren syg. let be friend. i love the story n the history. ni miss farhan :)

    BalasHapus
  4. Tulisan yang menarik. Info tentang Wisata Aceh disini juga ada : http://acehplanet.com/

    BalasHapus
  5. lestarikan budaya ACEH
    TA JAGA BEUGET KEUNEBAH INDATU

    BalasHapus