Senin, 14 April 2014

Peunajoh Aceh, Seni Atraksi Sebuah Daerah

Share it Please
Tidak lengkap rasanya bila mendatangi suatu daerah tanpa mencicipi aneka cita rasa makanan tradisional daerah setempat, begitu juga bila anda mendatangi kawasan Banda Aceh. Saat datang ke daerah seribu sultan ini, anda akan disuguhkan dengan banyaknya jajanan tradisional khas Aceh yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh ataupun dimakan saat liburan.

Jika anda berkunjung ke Banda Aceh, jangan lewatkan memburu jajanan khas Aceh di daerah Aceh Besar, tepatnya daerah Lhoknga dan Lampisang. Beberapa kedai yang terletak di tepi jalan ini menyuguhkan berbagai macam jajanan khas Aceh. Kue Bhoi adalah salah satu jajanan tradisional Aceh yang memiliki bentuk bervariasi. Mulai dari bentuk ikan, bunga, bintang dan lain-lain. Berbeda dengan bolu-bolu yang dijual di bakery, kue Bhoi memiliki bentuk permukaan yang kasar dan lebih bantet bila dibandingkan dengan bolu-bolu yang lain. Kue yang menjadi salah satu ciri khas Aceh ini memiliki tekstur bagian luar yang kering, dan bagian lembut didalamnya. Uniknya, kue ini dapat bertahan cukup lama karena perantaraan gula sebagai pengawet. Di daerah Aceh sendiri kue ini disajikan dalam berbagai acara diantaranya hajatan seperti kelahiran dan sunatan. Pada saat proses seserahan, Kue Bhoi dapat dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan. Proses pembuatan kue Bhoi ini pun tergolong cukup rumit. Kue Bhoi dapat dinikmati berkisar dengan harga Rp.5000 sampai dengan ratusan ribu. 


                              

Jajanan lainnya yang dapat kita temui ialah Keukarah. Apa yang ada di dalam benak anda mendengar kata 'Keukarah'? Anda akan terkejut bila melihat penampilan dari jajanan yang satu ini. Banyak orang yang mengira jika Keukarah ini terbuat dari sarang burung walet. Namun nyatanya tak ada campuran sarang burung walet dalam adonannya. Karena teksturnya, Keukarah seringkali disamakan dengan sarang burung walet, namun bentuknya lebih beraturan dan dapat divariasikan sesuai selera. Keukarah adalah penganan yang terbuat dari campuran tepung dan santan. Bahan yang diperlukan untuk membuat kue ini antara lain tepung beras,gula dan air yang diaduk menjadi satu adonan kental dan tidak terputus Keukarah dapat bertahan selama beberapa bulan karena menggunakan banyak gula. Alasannya? agar kue ini lebih keras dan tahan lama. Bukan hanya gula saja, Garam pun ikut berpengaruh pada adonan tepung. Karena bentuknya unik, kue ini seringkali dijadikan sebagai oleh-oleh bagi para wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh. Pembuatan keukarah ini harus dilakukan dengan kesabaran dan ketelitian yang besar. Sebab, kue tersebut hanya digoreng satu persatu dalam satu penggorengan, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Di daerah Aceh, peunajoh ini sering dijumpai pada saat acara-acara adat, hari raya maupun kenduri di Aceh. Tak jarang, banyaknya permintaan membuat penjual jajanan tradisional Aceh kian bersemangat untuk terus menjajakan kue Khas Aceh yang mulai terlupakan.


                            


Yang ketiga ini cukup istimewa. Pernakah anda mendengar slogan 'Pemulia Jamee Adat Geutanyoe'? Begitulah masyarakat Aceh dalam memuliakan tamu. Cara masyarakat Aceh memuliakan tamu tidak hanya berdasarkan perilaku, namun dicirikan dalam kuliner tradisional. Salah satunya ialah Meuseukat.  Kudapan sejenis dodol Aceh ini merupakan makanan khas Aceh yang terbuat dari tepung terigu dan campuran buah nanas. Teksturnya lunak dan cukup manis. Kue yang satu ini terbilang mempunyai kasta yang tinggi karena hanya disajikan pada acara tertentu saja, seperti prosesi perkawinan dan hari raya. Penganan yang satu ini terbilang cukup unik sebab tidak menggunakan santan seperti umumnya kue khas Aceh. Didalam adonan kue, dimasukkan mentega. Tujuannya agar kudapan tersebut legit dan tidak lengket. Kini, karena rasanya yang dominan manis membuat penganan yang satu ini diburu oleh para wisatawan dan dijadikan sebagai oleh-oleh khas Aceh. Jika anda berkunjung ke daerah Banda Aceh, jangan lewatkan kelezatan kudapan yang satu ini. Anda bisa mendapatkannya di gerai-gerai pinggir jalan yang berada di daerah Aceh Besar. 


                               


Jika anda singgah di Banda Aceh, jangan lupa mampir ke daerah Lampisang sebab gerai-gerai yang menjual penganan khas Aceh dapat dijumpai disekitar pinggiran jalan Banda Aceh-Meulaboh. Adapun kue khas Aceh lainnya yaitu kue bungong jaroe, Bu Gring, Kue Seupit  atau biasa dikenal dengan nama Semprong, Badar Rateuk, Halua Breuh, manisan pala, dan Timpan juga tersedia. Anda akan puas memperoleh oleh-oleh khas Aceh dengan harga yang cukup terjangkau.  

Makanan Tradisional sebagai Cerminan Daerah

Aceh mempunyai bermacam keanekaragaman yang harus dilestarikan keberadaannya. Salah satunya pada kuliner tradisional yang saat ini marak dilupakan. Padahal, hal yang sering terlupakan di tengah pemikiran masyarakat bahwa seni kuliner dari suatu daerah merupakan cerminan dari tradisi dan kebudayaan daerah tersebut. Seperti halnya Meuseukat, kebudayaan masyarakat Aceh dalam memuliakan tamu merupakan wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, dan hukum masyarakat yang berlaku yang diwujudkan dalam seni kuliner. Didalam tersajinya sebuah makanan, mengandung hal-hal tertentu yang dapat kita ambil kesimpulannya. Keragaman kuliner Aceh merupakan cermin pluralitas budaya yang belum banyak ditemui pada kuliner bangsa-bangsa lain di dunia. Secara sosiologis dan antropologis, aneka kuliner di Aceh juga mencerminkan keragaman dan kekayaan kultural masyarakat Aceh itu sendiri. Makanan rakyat, adalah salah-satu cerminan unsur budaya yang cukup sentral karena menunjukkan penanda keragaman pencerapan tubuh manusianya, yang dalam hal ini adalah lidah dan selera, yang ternyata tidak sama alias memiliki kekhasan dalam setiap etnis dan masyarakat di daerah tersebut. Seringkali, meski tidak selalu-yang dijadikan sebagai penanda untuk menunjuk kekhasan dan keunikan suatu daerah, sehingga dapat menjadi daya tarik wisatawan itu sendiri. Seperti lazimnya kita ketahui bahwa ketika orang mengunjungi sebuah tempat wisata, mereka juga tak semata-mata ingin menikmati keindahan atau kekhasan suatu daerah yang dikunjungi, melainkan juga ingin mengetahui dan merasakan kekhasan makanan dan kuliner daerah atau tempat yang mereka datangi dan mereka kunjungi. Saya berharap agar masyarakat Aceh lebih antusias dalam melestarikan dan membudidayakan kuliner khas Aceh yang mulai dilupakan oleh zaman. 




6 komentar:

  1. Waahhh itu keukarah fav saya bangeett :)

    BalasHapus
  2. hahah sama :) krenyes2 gimana gitu hahaha

    BalasHapus
  3. Mantap Banget Tulisan ya.
    Destinasi Lengkap Aceh cuma Ada di : http://acehplanet.com/

    BalasHapus
  4. karah ingat masa di meulaboh dulu. jgn lupa mampir ya : http://charmingaceh.blogspot.com/2014/04/jangan-ke-banda-aceh.html

    BalasHapus
  5. Bagus artikel nya, jangan lupa mampir kemari ya : http://bandaacehvisit.blogspot.com/2014/04/banda-aceh-icon-para-cendekia-aceh.html

    BalasHapus